Kue, Doa, dan Peluncuran Buku di Ultah Emas Persela

Tidak ada ingar-bingar kembang api. Tidak ada pula deru musik yang menggema di berbagai sudut Lamongan. Hanya ada dua kue ulang tahun setelah latihan Persela Lamongan Selasa sore (18/4). Juga, doa bersama di Masjid Mbah Lamong.

Padahal, 18 April 2017 ini adalah hari istimewa: Persela tepat berusia setengah abad alias 50 tahun. Namun, klub berjuluk Laskar Joko Tingkir itu memilih untuk merayakannya ulang tahun emasnya itu dengan sederhana tetapi penuh makna.

’’Terima kasih kepada para suporter yang tiada henti mendukung. Semoga, pada usia 50 tahun, Persela bisa lebih berjaya dan makin jadi kebanggaan masyarakat Lamongan,’’ tutur Manajer Persela Yunan Achmadi.

Sebagai bagian dari perayaan ulang tahun tersebut, ada peluncuran buku yang bertajuk Persela Menegaskan Identitas Kami karya wartawan Jawa Pos Miftakhul Fahamsyah. Launching buku itu dihadiri pula oleh suporter fanatik Persela, serta salah seorang pemain, Taufik Kasrun. Obrolan cukup seru tersaji dalam launching buku tersebut. Mulai sejarah berdirinya klub berkostum biru langit itu hingga momen-momen bersejarah di dalamnya.

Mifta, sapaan akrab Miftakhul Fahamsyah, mengungkapkan, saat ini, di mana pun berada, warga Lamongan sudah tidak malu mengakui dari mana asalnya. ’’Persela-lah yang jadi kebanggaan masyarakat Lamongan,’’ katanya.

Sementara itu, pelatih Persela Heri Kiswanto menyatakan bahwa para penggawa Persela tahun ini juga berjanji memberikan yang terbaik kepada para suporter. ’’Mereka bermain untuk Persela. Tulus dari hati,’’ ujarnya. (rid/c14/ttg)

loading...