Liga Santri Nusantara Kembali Digelar di Yogyakarta

Liga Santri Nusantara Kembali Digelar di Yogyakarta

Liga Santri Nusantara (LSN) Region Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali digelar tahun ini. Turnamen yang diikuti 15 tim ini bakal dimulai di Stadion Sultan Agung pada 29 Agustus 2016 mendatang.

Tim-tim yang bertanding adalah Pondok Pesantren Ulul Albab, Pondok Pesantren Al-Jailani, Pondok Pesantren Ali Maksum (1), Pondok Pesantren Ali Maksum (2), Pondok Pesantren Baiquniyyah, Pondok Pesantren Al-Munawwir, Pondok Pesantren Al-Imdad, Pondok Pesantren Rohmatul Umam, Pondok Pesantren Nur Iman, Pondok Pesantren Nurul Haromain, Pondok Pesantren Ar-Ramli, Pondok Pesantren Pandanaran, Pondok Pesantren Pangeran Diponegoro, Pondok Pesantren Al-Mahally, dan Pondok Pesantren Al-Qur’an Wates.

“Liga Santri Nusantara untuk DIY ini akan digelar selama delapan hari dengan sistem setengah kompetisi. Untuk semifinal akan dilaksanakan pada 7 September 2016 dengan mempertemukan juara grup A melawan juara grup B, serta juara grup C melawan juara grup D. Kalau final akan digelar pada 8 September 2016,” ujar Koordinator LSN Region DIY, Umarudin Masdar kemarin.

Ajang yang diadakan oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) dan didukung oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) itu diharapkan bisa mencetak satu tim dari DIY yang dapat menjadi juara dan tidak hanya di tingkat region, tapi juga tingkat nasional. Hal itu tak lepas dari pencapaian sebelumnya, di mana perwakilan DIY bisa mencapai posisi ketiga dalam LSN Nasional.

Selain itu LSN bertujuan untuk menjaring bibit dan bakat olahraga sepak bola di kalangan pemuda khususnya yang berasal dari pondok pesantren. Mengingat mereka sebenarnya juga sangat potensial dalam olahraga yang paling digemari masyarakat ini. Melalui LSN yang sudah berjalan dua tahun itu, kini ponpes pun bisa menyalurkan bakat-bakat anak didiknya dan kian intensif memberikan pembekalan olahraga tersebut kepada murid-muridnya.

“Memang jarang ponpes yang melahirkan atlet sepak bola nasional, dan kebanyakan dari jalur lain. Namun mereka ini sebenarnya memiliki kemampuan untuk bersaing di bidang olahraga, selain ilmu agama. Pembekalan itu juga banyak diberikan di ponpes,” jelasnya.