Gaji Pemain Korsel Ini Tidak Dibayar 3 Klub Indonesia

Shin Hyun Joon

Bukan hanya soal intervensi pemerintah terhadap PSSI saja yang mencoreng dunia persepakbolaan Indonesia, klub-klub pun ikut andil menambah ruwet permasalahan sepak bola nasional dengan menunggak pembayaran gaji pemain.

Adalah pemain berkebangsaan Korea Selatan, Shin Hyun Joon, yang harus merana hidup di negeri orang karena gaji yang merupakan haknya masih ditunggak tiga klub. Menurut penuturan pemain berusia 33 tahun itu, tiga klub yakni Deltras Sidoarjo, PSMS Medan dan Perseman Monkwari hingga saat ini belum melunasi gajinya. Padahal, kompetetisi sudah selesai dan tanggung jawabnya sebagai pemain sudah ia laksanakan.

“Tahun 2012 saya bermain di Deltras Sidoarjo dan mereka belum bayar gaji Rp. 110 juta. Masih di tahun 2012 saya main di PSMS Medan dan mereka belum membayar gaji saya Rp. 150 juta dan 2013 saya bermain di Perseman Monkwari, mereka pun menungak gaji saya sampai sekarang Rp. 450 juta,” kata Shin dengan muka sedih kepada INILAHCOM, Selasa (3/5/2016).

Kontan saja, dengan situasi tidak memiliki uang, ia pun harus rela tinggal di Tangerang dan bekerja seadanya demi menyambung hidup. Jangankan untuk uang membeli tiket pulang ke negerinya, untuk makan sehari-hari pun ia harus memutar otak.

Shin Hyun Joon saat ini hanya bisa meratapi kondisinya dan berdoa pengurus ketiga klub tersebut tergerak hati untuk melunasi tunggakan gaji sehingga ia bisa kembali ke kampung halamannya.

“Tolongah saya, kalau saya orang Indonesia tidak apa-apa. Tapi, saya orang Korea, dan memerlukan biaya hidup. Saya sudah melaksanakan tugas saya sebagai pemain, tapi kenapa gaji saya ditahan mereka, tolonglah saya, bantu saya,” ujarnya.

Shin selama ini tinggal diam ketika Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) gencar menyuarakan pembayaran gaji pemain yang tertungak, Shin pun mendatangi mereka untuk mengadukan nasibnya. Begitupun saat Menpora Imam Nahrawi melalui Tim Sembilan membuka posko pengaduan gaji pemaim, Shin dengan harapan besar datang ke Kantor Kemenpora.

“Tapi, jawaban mereka tidak memuaskan, nanti dikabarin, sampai sekarang tidak ada kabar baik buat saya. Gaji saya tetap ditunggak tiga klub itu,” ujarnya.

Hari demi hari, pemain yang menempati posisi sebagai gelandang itu berharap ada uluran tangan dari pihak-pihak yang berkompeten untuk membantu menyelesaikan persoalan gajinya.

“Saya berharap persoalan ini cepat selesai karena saya pun mempunyai keluarga. Sepak bola Indonesia sebenarnya sudah bagus, tapi persoaalan gaji menjadi masalah. Saya heran kenapa sekarang klub-klub penunggak gaji itu masih bisa berkompetisi,” tuturnya. (inilah)