PSS Sleman Dukung KLB PSSI

Divonis Seumur Hidup, Supardjiono Tetap Cinta Sepak Bola

Inisiatif manajemen PSIS Semarang untuk mendorong agar segera digelarnya Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI mendapatkan dukungan penuh dari manajemen PSS Sleman.

Manajemen klub berjuluk Super Elang Jawa itu menganggap KLB perlu dilakukan dengan alasan mandulnya kerja pengurus PSSI saat ini.

Dikatakan Eks Manajer PSS Sleman Supardjiono, tak terbitnya izin untuk menggelar pertandingan selama ini bukan semata-mata kesalahan pemerintah saja. Ia menilai PSSI pun terlampau egois dan arogan terhadap keterlibatan pemerintah.

“Percuma arogan. Buktinya sekarang mana. Kompetisi saja tidak ada,” tegasnya saat dihubungi wartawan, Senin (18/1/2016) siang.

Oleh karena itu, ia menganggap kepemimpinan La Nyalla Mattaliti saat ini sudah tak dibutuhkan lagi di PSSI. Dengan begitu, menurut pria yang kini masih menyandang status terhukum lantaran skandal sepak bola gajah itu sangat sepakat jika ada klub yang mendorong digelarnya KLB.

“Saya rasa KLB itu pilihan yang sangat logis. Kami pastikan siap mendukung,” tegas pria yang juga seorang pengusaha ini.

Begitu pula terkait keterlibatan pemerintah. Menurutnya, meminta izin dan berkoordinasi dengan pemerintah sebelum menggelar kompetisi bukanlah hal tabu yang harus dilakukan oleh sebuah induk organisasi sepakbola. Pasalnya, sebuah pertandingan sudah barang tentu akan melibatkan banyak pihak, mulai dari PSSI, kepolisian, hingga warga sekitar lokasi digelarnya pertandingan.

Sebelumnya, pihak Tim Transisi mengaku optimistis bisa menggelar KLB PSSI dengan agenda pemilihan ketua umum baru. Hal itu menyusul diterimanya desakan dari beberapa manajemen klub agar kondisi sepakbola bisa segera kembali normal. “Kami sudah mendapatkan desakan dari beberapa klub. Salah satunya PSIS,” kata Anggota Tim Transisi, Djoko Susilo.

KLB itu sendiri, menurut Djoko sudah sesuai dengan arahan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Hanya saja, saat ditanya mengenai kepastian tanggal pelaksanaannya, ia mengaku pihak Tim Transisi belum menetapkannya. “Belum ditentukan tanggalnya, tapi sudah persiapan,” tegasnya.

Pria yang juga anggota Tim Kecil bentukan Presiden Joko Widodo dan FIFA itu yakin bahwa reformasi sepakbola hanya bisa diraih bersama orang-orang yang mau melakukannya. Oleh karena itu, pihaknya pun tak mau ambil pusing dengan sikap PSSI dan PT Liga yang enggan berkordinasi dengan Tim Transisi. “Terserah, kalau mau di-banned terus ya nggak apa-apa. Daripada jadi sarang mafia terus,” ujar Djoko. (Harian Jogja)

loading...

Comments are closed.