Kemenpora dan PSSI Satu Sikap Soal APPI

Kemenpora dan PSSI Satu Sikap Soal APPI

Ketua Dewan Pembina PSSI sekaligus Ketua Komite AdHoc PSSI, Agum Gumelar baru saja menyelesaikan rapat komite soal pelaksanaan reformasi tata kelola sepak bola nasional, bersama sejumlah anggotanya pada Senin (11/1) malam tadi. Usai pertemuan , Agum menjelaskan dirinya juga sempat membahas soal asosiasi pemain sepak bola profesional (APPI).

Rapat tertutup di kediaman jenderal bintang empat TNI AD tersebut beranggotakan wartawan senior sekaligus mantan Direktur PPP GBK Radja Pane, Wakil Komisi Banding PSSI M. Nigara, dan Direktur Youth Development PSSI Tommy Welly. Juga hadir CEO PT Liga Indonesia Djoko Driyono, hingga perwakilan sepak bola wanita Pingky Herawati untuk menggantikan Monica Desiraria.

“Saya dengar OCA (Komite Olimpiade Dunia) akan datang ke Indonesia untuk mengecek kesiapan Asian Games, dan katanya masalah sepak bola akan menjadi yang cukup serius dibicarakan dengan pemerintah,” tutur Agum.

Wacana mogoknya pemain di bawah naungan APPI (Asosiasi Pesepak bola Profesional Indonesia) juga ditanggapi Komite AdHoc. Wacana tersebut muncul dari Presiden APPI, Ponaryo Astaman agar rekan-rekannya berhenti bermain di turnamen saat ini, sebagai bentuk solidaritas pada pemain dari klub divisi lain.

“Kami harus menyebarluaskan pemikiran yang benar, soal kenapa komite ini dibentuk, apa tugas ke depannya, dan harapannya terhadap masa depan sepak bola. Di dalamnya dibahas juga soal asosiasi pemain profesional di Indonesia yang ditunjuk oleh FIFA sebagai perwakilan pemain,” kata eks-Ketua Umum KONI tersebut.

“Tapi kalau mereka akan bilang tidak akan hadir, kami tak bisa memaksa. Kalau berpihak pada pemerintah, silahkan. Padahal kami bersama-sama dengan pemerintah mencarikan solusi terbaik sesuai arahan Presiden Jokowi, kami bukan lawan dari pemerintah,” kata Agum.

Senada dengannya, Kepala Komunikasi Publik Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Gatot S Dewo Broto juga menyayangkan sikap APPI. Gatot menuturkan kalau asosiasi tersebut memang punya hak merespon suara anggotanya.

“Tetapi apakah mogok itu menyelesaikan masalah? Dan kami merespons PT Liga untuk menggulirkan kompetisi. Turnamen saja bisa, kan tinggal minta surat rekomendasi tim transisi,” kata Gatot.

“Kami masih percaya dengan PT Liga untuk menggelar kompetisi. Bukan tim transisi yang menggulirkan, wong Piala Kemerdekaan saja kedodoran,” pungkasnya.