Banyak Pemain Persib yang Ternyata “Berselingkuh”

Banyak Pemain Persib yang Ternyata Berselingkuh

Kompetisi sepakbola Indonesia belum jelas hingga kini. Bagi para pelaku di industri sepakbola, kondisi itu bukan hal menyenangkan.

Kebutuhan hidup jelas harus terus dipenuhi, apalagi bagi mereka yang sudah menikah dan memiliki anak. Tapi kompetisi sepakbola tidak berjalan. Lahan untuk mendapatkan uang pun semakin sempit.

Akan tetapi, bagi beberapa pemain Persib Bandung, kondisi saat ini disikapi dengan cara bijak. Bahkan ada yang sudah sejak jauh-jauh hari melakukan antisipasi.

Beberapa dari mereka ‘selingkuh’ dari pekerjaan utamanya sebagai pesepakbola. Caranya adalah dengan berbisnis, baik masih di bidang sepakbola maupun bidang lain.

Lalu apa saja bisnis ‘selingkuhan’ para pemain Persib?

1. Atep

Pemilik nomor punggung 7 ini memiliki bisnis sampingan yang tidak jauh dari sepakbola. Ia memiliki sekolah sepakbola di Kabupaten Cianjur yang diberi nama SSB A7. Di kampung halamannya itu, Atep juga bisnis lain yaitu lapangan futsal.

Melalui SSB A7 dan lapangan futsal, Atep ingin menyalurkan kecintaannya pada dunia sepakbola. Ia ingin memoles talenta pesepakbola untuk masa depan. Ia juga ingin memfasilitasi mereka yang hobi sepakbola agar bisa menyalurkan hasrat bermainnya di lapagan futsal.

Dari bisnisnya itu, Atep bisa mendapat pemasukan tambahan. Tapi dalam saat bersamaan, ia perlahan bisa mewujudkan mimpi besarnya di dunia sepakbola.

Di luar itu, Atep juga punya usaha tambak ikan. Bahkan ia segera terjun dalam usaha bisnis kuliner dengan membangun kafe bernuansa sepakbola.

2. Dedi Kusnandar

Berbeda dengan Atep, Dedi punya bisnis sampingan berupa tempat kost di dekat kampus Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Usaha ini dijalani Dedi cukup lama. Ia sengaja membangun tempat kost untuk menambah pemasukkan sekaligus jadi aset masa depannya.

Ia bahkan belum lama ini juga menjajal bisnis kuliner yang diberi nama Dado De Ceker yaitu makanan olahan berupa ceker atau kaki ayam. Usaha barunya itu juga bertempat di kawasan Sumedang yang merupakan kampung halamannya.

3. Tony Sucipto

Pemain yang bisa ditempatkan di berbagai posisi ini memiliki usaha restoran di Jalan Sukimin, Kota Bandung. Usaha itu ia geluti sebelum kisruh PSSI dan Menpora Imam Nahrawi terjadi. Sehingga ketika sepakbola Indonesia mati suri, ia mendapat pemasukan dari restorannya.

Ia juga punya usaha restoran berkonsep unik yaitu Street Gourmet. Konsep dari restorannya adalah berupa tempat makan di dalam bus. Usaha ini dijalanka Tony bersama beberapa orang, salah satunya eks striker Persib Airlangga Sutjipto.

4. Tantan

Pemain berposisi winger ini baru saja menekuni usaha sampingan berupa kafe bernama Warung Tantan 82 di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Konsep kafe pun dibuat unik karena terdapat berbagai hal berbau sepakbola.

Sebelum terjun ke bisnis kuliner, Tantan juga menjalankan bisnis sapi perah yang identik di kawasan Lembang.

5. Hariono, Taufiq, Dias Angga

Ketiga pemain ini masing-masing punya bisnis yang sama yaitu produk fashion. Tapi usaha mereka dijalankan masing-masing. Hariono memiliki produk dengan merk H24, Taufiq memakai merk T-eight, dan Dias menjual kaos khusus bergambar dirinya sendiri.

Ketiganya menjual pakaian secara online, salah satunya dipromosikan melalui instagram. Tapi Hariono dan Taufiq juga menjual produknya di beberapa lokasi di Bandung.

6. Rudiyana

Striker muda ini juga memiliki bisnis yang belum lama digelutinya. Jauh dari dunia sepakbola, Rudiyana membuka usaha berupa peralatan memancing di kawasan Mengger, Kota Bandung.

Dalam usaha ini, Rudiyana berperan sebagai pemodal. Sementara sang kakak menjalankan usaha tersebut. Alasan Rudiyana terjun dalam usaha ini adalah karena memancing merupakan salah satu kegemarannya.

7. Herrie Setiawan, Anwar Sanusi, Asep Sumantri

Ketiga orang ini adalah asisten pelatih Persib. Di luar pekerjaannya di tim berjuluk ‘Maug Bandung’, ketiganya adalah pegawai negeri sipil (PNS). Mereka sama-sama bertugas di Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Bandung.

Bagi mereka, bekerja sebagai PNS jelas adalah pekerjaan utama. Sebaliknya, asisten pelatih merupakan pekerjaan kedua. Tapi, mereka bisa membagi waktu untuk menjalan dua pekerjaan sekaligus dengan baik. Bahkan mereka punya kontribusi besar membantu pelatih Djadjang Nurdjaman membawa Persib jadi juara ISL 2014, Piala Wali Kota Padang 2015, dan Piala Presiden 2015. (Okezone)