Surabaya United Tidak Seimbang dengan Arema Cronus

Pesepak bola Arema Cronus melakukan latihan di stadion Gajayana, Malang, Jatim, Senin (7/12). Latihan yang diisi dengan pemantapan strategi dan kerja sama antar pemain tersebut untuk mempersiapkan diri menghadapi babak delapan besar Piala Jenderal Sudirman yang akan dimulai pada tanggal 13 Desember 2015. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/aww/15.

Pertemuan Arema Cronus kontra Surabaya United diprediksi tidak seimbang setelah hilangnya beberapa pemain. Tanpa Jendry Pitoy, Pedro Javier, Otavio Dutra dan Thiago Furtuoso, Surabaya memang masih memiliki kualitas memadai walau hanya berbekal pemain lokal.

Tapi dari aspek pengalaman, tim asuhan Ibnu Grahan sangat miskin dan berbanding jauh dengan Arema Cronus. Minimnya pengalaman karena usia masih muda, harus dihadapkan pada sebuah laga penentuan dengan tekanan besar dari Aremania yang mendominasi tribun Maguwoharjo.

Jika membuat komparasi dari lini per lini, akan terlihat jelas bagaimana Arema Cronus terlihat lebih mapan dengan pemain senior. Walau tetap start dengan dua pemain muda Dio Permana dan Junda Irawan, setelah itu Arema mutlak unggul di semua lini. Berikut gambaranya.

Lini Belakang

Dipecatnya Jendry Pitoy dan Otavio Dutra langsung mereduksi pengalaman di lini belakang Surabaya United. Satu-satunya pemain yang punya jam terbang tinggi adalah Munhar, eks pemain Arema Cronus yang bakal diplot menggantikan Otavio Dutra.

Selain dia, semua stok di lini belakang tim asuhan Ibnu Grahan adalah pemain belia, sebut saja Putu Gede, Fatchurrohman, Sahrul Gunawan, hingga kiper Thomas Ryan Bayu. Bandingkan dengan pertahanan Arema yang semuanya memiliki kemapanan seperti Benny Wahyudi, Kiko Insa, Purwaka Yudhi dan Johan Alfarizie.

Ditambah lagi dengan kembalinya Hasim Kipuw yang melengkapi lini pertahanan Singo Edan. “Saya siap bermain menghadapi Surabaya United. Stamina saya memadai dan siap tampil,” ujar Hasim Kipuw, eks pemain Surabaya United ketika masih bernama Persebaya Surabaya.

Lini Tengah

Diprediksi memakai pola 4-4-1-1, Surabaya United lagi-lagi miskin pengalaman di lapangan tengah. Publik bola tak meragukan kualitas Evan Dimas, Zulfiandi dan Ilham Udin Armayn, yang pernah berjaya bersama Tim Nasional U-19. Walau memiliki kemampuan bagus, tampaknya masih sulit bagi mereka menghadapi seniornya seperti misalnya Ahmad Bustomi.

Pemain tengah Surabaya United juga masih sering labil alias tak konsisten, apalagi diperberat hilangnya Thiago Furtuoso yang mengundurkan diri. Lini tengah bakal menentukan karena akan menjadi prosesor tim dalam mengalirkan serangan. Jika Persebaya tak bisa menutupi kurangnya jam terbang, maka lini tengah Arema yang dijejali Bustomi, Juan Revi dan Toni Espinosa, akan mudah ‘semena-mena’ dan berkuasa penuh di lapangan tengah.

Lini tengah Persebaya bakal sangat sibuk dan terancam lebih konsentrasi pada bertahan jika penguasaan bola dikuasai pemain Arema.

Lini Depan

Surabaya United kehilangan dua striker di laga kontra Arema dan kelihatannya itu sangat serius. Tanpa Rudi Widodo yang terkena skorsing kartu merah, Pedro Javier kemudian didepak dari tim. Beban berat akan ditanggung Fandi Eko Utomo yang kini menjadi harapan utama Surabaya United di lini depan. Jika memakai formasi 4-4-1-1, maka Fandi akan didukung Wahyu Suboseto di belakangnya.

Apa yang terlihat dari sana? Ya, kualitas dan pengalaman terlalu terbatas untuk menggedor pertahanan Arema yang sudah tiga kali clean sheet. Bahkan, jika dikomparasi, lini depan Surabaya United kalah jauh dengan milik Arema, sebut saja Samsul Arif, Esteban Vizcarra dan Cristian Gonzales.

Seberapa pun keyakinan yang dilontarkan Surabaya United, mereka tak bisa menutupi bahwa level kekuatannya kini berada di bawah Arema Cronus. Butuh keberuntungan luar biasa bagi Surabaya United walau hanya untuk sekadar membuat peluang ke gawang Arema. (okezone)