Nama Widodo Muncul Saat Liestiadi Diambang Pemecatan

Nama Widodo Muncul Saat Liestiadi Diambang PemecatanPersegres Gresik United berencana merombak tim jelang tampil di Piala Jenderal Soedirman, November 2015. Tim kepelatihan yang dipimpin Liestiadi menjadi bagian yang tersentuh perubahan. Manajemen klub siap melengserkan pelatih asal Medan tersebut.

Manajer Persegres Bagoes Cahyo Yuwono mengatakan pihaknya ingin melakukan penyegaran di tim Laskar Jaka Samudra, termasuk pembaruan di sektor pelatih. Namun, Bagoes belum mau mengungkapkan detail status Liestiadi.

“Penyegaran dilakukan agar ada suasana baru. Akan ada perubahan dari komposisi pelatih maupun pemain. Yang pasti kami akan melakukan pembenahan dengan harapan bisa lebih baik dibanding keikutsertaan di turnamen sebelumnya,” ucap Bagoes.

Liestiadi gagal total di Piala Presiden 2015. Di tiga pertandingan Grup D di Makassar, Laskar Jaka Samudra menelan tiga kekalahan beruntun dengan torehan satu gol dan kebobolan delapan kali. Rekor itu memunculkan wacana pencoptoan Liestiadi. Namun, pernyataan Bagoes masih mengambang karena menyebut penyegaran ini bersifat sementara karena hanya terlibat di turnamen.

Bagoes juga menampik perubahan pelatih berkaitan langsung dengan kegagalan Persegres di Piala Presiden 2015. Di Gresik, sudah beredar kabar bahwa Widodo C Putro menjadi kandidat pelatih Persegres yang baru.

“Tunggu saja perkembangannya. Pastinya akan ada perubahan,” demikian penegasan Bagoes. Dia hanya membeberkan konsep tim kuning yang bakal lebih banyak mengoptimalkan pemain muda dan asli Gresik. Rekrutmen bakal secepatnya dilakukan setelah tim memulai latihan.

Persegres ingin komposisi tim dihuni 90% pemain lokal Persegres, yang berarti butuh sekitar 13 pemain. Konsep itu dipakai dengan alasan ingin memberikan ruang berkembang bagi pemain-pemain muda Gresik. “Kami juga harus memperhatikan progres pemain muda dan asli Gresik,” katanya.

Perubahan ini terhitung mengejutkan dan membuat supporter Ultrasmania  penasaran, apalagi dengan konsep membawa pemain-pemain muda lokal di turnamen yang dihuni klub-klub ISL. Terutama jika dikomparasi dengan hasil Piala Presiden, di mana mereka gagal total walau memakai banyak pemain berpengalaman.

Ultrasmania sebenarnya memimpikan timnya melupakan hasil di Piala Presiden dan berbenah lebih serius. Namun harapan tersebut menemui kendala besar karena manajemen sendiri tak memiliki banyak dana untuk belanja pemain, apalagi hanya dipakai untuk turnamen.