Persegres Respons Positif Sistem Adu Penalti di Piala Presiden

Persegres Siapkan 21 Pemain Hadapi Arema

Penerapan sistem pertandingan dengan adu penalti di turnamen Piala Presiden, rupanya direspon positif Persegres Gresik United.

Itu karena para pemain lebih bisa menghemat energi atau stamina, sehingga bisa fokus pada laga berikutnya.

Sekretaris Persegres Gresik United, Hendri Febry menguraikan, sistem ini berbeda jauh dengan kompetisi ISL 2015, dimana hasil pertandingan masih bisa berakhir seri.
Sedangkan pada sistem yang diterapkan promotor Mahaka Sports and Entertainment, tak ada hasil seri.

“Bagi kami itu tak masalah. Semua sistem yang diterapkan punya keuntungan pada klub,” tuturnya kepada Surya, Rabu (26/8).

Pada sistem ini, tak ada hasil seri, dan salah satu tim harus memetik kemenangan lewat adu penalti.

Ini berbeda dengan sistem konvensional, dimana ada hasil seri, dan jika masuk babak penentuan, harus dengan perpanjangan waktu.

Perbedaan ini dinillainya menguntungkan, karena pemain tak perlu harus melewati babak perpanjangan waktu untuk menentukan lolos tidaknya tim ke babak berikutnya.

“Selain itu, hasil pada laga itu langsung dijadikan patokan, apakah peluang ke babak berikutnya masih ada pada laga berikutnya. Tentu pemain akan bisa fokus dan memaksimalkan laga normal agar bisa menang,” paparnya.

Bagaimanapun, dengan masuknya tim Laskar Joko Samudro ke grup D di Makasar, maka para pemain akan berusaha memenangkan tiap laga, jika tak ingin merasakan adu penalti.

Berbekal 21 pemain termasuk pemain asal Kamerun, Herman Dzumafo, maka Laskar Joko Samudro akan berangkat pada Sabtu (29/8) ke Makasar, dan akan bertarung dengan PSM Makasar, Persipasi Bandung Raya (PBR) dan Pusamania Borneo FC (PBFC).

“Kami akan bertolak ke Makasar, dengan bawa semua pemain,” pungkasnya. (Tribunnews)