Kisah Pedih Pemain yang Gajinya Belum Dibayar Arema Cronus

CEO Arema Buka-bukaan Soal Munhar

TUNGGAKAN gaji menjadi persoalan umum di kompetisi sepakbola Indonesia. Ibarat sebuah bangkai yang tersembunyi, terkadang masalah gaji yang belum terbayar hanya tercium baunya, tapi sangat sulit dicari bagaimana sebenarnya wujud bangkainya.

Hampir semua klub berupaya menyembunyikan masalah ini serapat mungkin, kecuali jika memang tak bisa lagi dirahasiakan. Tunggakan gaji dianggap aib yang harus dipendam dalam-dalam, karena dianggap bisa merusak citra klub. Citra yang akhirnya dipandang lebih penting dibanding nasib pemain.

Pemain dipandang tidak etis berbicara mengenai tunggakan gaji. Padahal beberapa klub malah hanya bermodal janji dan bahkan hingga si pemain hengkang pun tunggakan belum juga dibayar.

Diam salah, bicara malah tambah salah, begitu kira-kira kata Slank.

Munhar, eks pemain Arema Cronus yang kini berkostum Persebaya Surabaya, membuktikan nasibnya tidak lebih penting dari citra sebuah klub. Keluhan yang diungkapkan secara blak-blakan lewat media sosial, tidak mendapat tanggapan bijaksana dari mantan klubnya. Pemain yang pernah dijuluki ‘Pohon Asem’ itu membuka mata Aremania, supporter Arema, bahwa timnya tak sepenuhnya sempurna seperti yang terlihat.

Arema yang terlihat kaya dan heboh, ternyata sulit membayar tunggakan gaji seorang Munhar. Dibutuhkan nyali memadai untuk bisa ceplas-ceplos seperti Munhar. Nyali yang tumbuh subur karena rasa frustrasi dan kecewa, atau hampir putus asa karena tak kunjung menerima haknya.

Munhar pasti sadar dirinya menghadapi konsekuensi yang tak ringan karena keterbukaannya. Salah satu risikonya mungkin adalah semakin molornya pembayaran tunggakan, atau malah akan dilupakan. Ini situasi yang rumit, karena jika pemain tak berteriak, klub biasanya cuek dan terus memamerkan ‘kemewahan’ di atas penderitaan orang.

Pemain seperti dia juga akan dianggap sebagai pemain rewel. Risiko terbesarnya, mungkin akan sulit mendapat tim. Karena biasanya klub-klub takut dia akan melakukan hal serupa nantinya di tengah situasi rawannya tunggakan gaji di Indonesia.

Pemain yang memiliki nyali memperjuangkan haknya layak diberi apresiasi. Sepakbola profesional bukan kerja sosial. Pemain berlatih sejak kecil, memilih jalan hidupnya pada sepak bola, jelas tujuannya untuk bisa mendapatkan kehidupan layak dari olahraga ini.

Saya berharap lebih banyak pemain seperti Munhar yang berani berbicara lantang melawan ketidak adilan yang dilakukan beberapa klub ISL. Pemain selalu dituntut profesional, tapi klub mengajari bagaimana caranya mengkhianati sebuah profesionalisme.

Pola pikir klub yang mementingkan citranya dengan menyembunyikan situasi sebenarnya, juga sudah saatnya diubah. Arema Cronus mungkin lebih mendapat hormat jika sejak dulu berterus terang belum bisa melunasi gaji Munhar, gaji pemain ini, pemain itu, dan sebagainya.

Menyembunyikan sesuatu yang akhirnya terkuak dengan sendirinya justru akan mendatangkan malu. Tanggapan yang diberikan CEO Iwan Budianto terhadap ocehan Munhar di Twitter, menurut saya juga jauh dari sikap ksatria. Komentar blunder dari orang nomor satu di klub.

Iwan Budianto yang menyebut Munhar sebagai pemain minim kontribusi, bermain sekali semusim dan membuat blunder, bukan pernyataan bijak. Itu masih ditambah ancaman bakal mengubah rencana melunasi tunggakan setelah kick-off ISL.

Iwan mungkin lupa atau tepatnya belum datang ke Malang bersama Cronus-nya ketika Munhar menyelamatkan Singo Edan dari degradasi tiga musim lalu. Tanpa kontribusi Munhar yang bergabung saat Arema miskin compang-camping saat itu, mungkin ceritanya bakal lain.

Oke, Munhar musim lalu hanya sekali bermain sebagai starter dan membuat blunder. Bagaimana pun kualitas dia saat itu, yang pasti ada ikatan kontrak profesional dengan Arema. Tidak etis Iwan Budianto memandang Munhar serendah itu hanya gara-gara masalah tunggakan yang sudah menjadi haknya.

Jika tanggapan klub seperti ini, maka bukan tak mungkin di kemudian hari banyak Munhar-Munhar lainnya di Kanjuruhan. Pemain hanya disanjung ketika permainannya bagus, tapi tidak mendapatkan penghargaan yang memadai ketika performanya tak begitu dibutuhkan.

Inilah situasi sepakbola Indonesia. Tidak hanya satu-dua, banyak pemain yang berada dalam posisi Munhar tapi tidak berani berteriak karena takut menanggung risikonya. Saya tidak menyalahkan mereka yang takut, karena sepak bola adalah hidup mereka.

Risikonya bukan pada pemain saja, tapi juga keluarga yang dihidupinya jika karirnya macet gara-gara dianggap ‘ngember’. Lucunya, tunggakan gaji pemain akhir-akhir ini seperti lingkaran setan. Pemain menagih ke klub, sementara klub menunggu subsidi dari PT Liga Indonesia untuk melunasinya. Sedangkan PT Liga tak kunjung mencairkan subsidi musim sebelumnya. Waras? (Okezone)