Kisah Hargianto Lulus UN Dari Diklat Ragunan

Kisah Hargianto Lulus UN Dari Diklat Ragunan

Mantan pemain tim nasional Indonesia U-19, Muhammad Hargianto, bisa dikatakan tengah menikmati hasil kerja kerasnya. Yakni, dapat memperkuat Persebaya Surabaya, klub kontestan kompetisi Indonesia Super League (ISL) musim 2015.

Hal tersebut, tentu membuat bangga Kepala Sekolah SMP/SMA Ragunan (Diklat Ragunan), Rasmadi. Dikatakannya, jika Hargianto merupakan salah satu mantan siswa didik yang masih diingatnya.

Sekalipun hampir tidak pernah mengikuti pelajaran di kelas, dilanjutkan Rasmadi, ternyata Hargianto mampu lulus Ujian Nasional (UN).

“Dahulu, Hargianto terpaksa mengikuti UN susulan. Karena saat UN berlangsung, dia tengah melakukan serangkaian pertandingan di luar negeri. Lalu setelah pulang, saya tanya apakah dia sempat belajar menjelang ujian nasional atau belum, maka dijawab belum,” kata Rasmadi.

“Lalu, Hargianto mengungkapkan jika dirinya sudah berdoa waktu Umroh dengan Timnas. Kemudian saya bilang, mudah-mudahan Allah (SWT) membantu dan memberikan kamu pertolongan. Ternyata, sungguh mengejutkan, hasil UN-nya sangat tinggi atau di atas rata-rata teman-temannya,” tuturnya.

Lebih jauh dikatakannya lagi, bukan hanya Hargianto yang jarang mengikuti kegiatan di kelas secara aktif. Melainkan, sangat banyak murid-muridnya yang lain. Meski belajar dalam kondisi lelah, bahkan kadang tertidur, namun angka kelulusan di Diklat Ragunan selalu 100 persen.

Masih diterangkannya, jika seseorang senang berolahraga, bisa dipastikan kalau orang yang bersangkutan memiliki intelegensia tinggi. Kemudian dikatakannya lagi, bahwa atlet yang belajar di SMP/SMA Diklat Ragunan memiliki konsekuensi yang sama. Yakni, mereka harus belajar seperti pelajar di sekolah lain.

Namun, jam belajar mereka berbeda. Mereka belajar mulai dari pukul 09.00 hingga 12.00. Bagi yang berada di luar negeri, mereka bisa belajar melalui alat komunikasi lainnya mulai pukul 13.00. Yang pasti kata Rasmadi, dia sama sekali tak mendapatkan kendala terhadap anak didiknya.

“Para guru di sekolah Ragunan dibagi dalam tiga shift. Dengan gaji yang sama dengan guru di sekolah lain, mereka siap menjalankan tugasnya,” pungkasnya. (Bola.net)

loading...